-->

Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Plt Bupati Pati Apresiasi Pelestarian Tradisi Lamporan

Jumat, 19 Juni 2026 | Juni 19, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-20T01:50:17Z

 

Dok//mediasuarakita.com 

PATI — Desa Soneyan, Kecamatan Margoyoso, kembali menghidupkan tradisi Lamporan melalui kegiatan Wiwitan dan Gelar Budaya yang digelar pada Jumat, 19 Juni 2026. Acara yang diselenggarakan oleh Komunitas Plat K ini diikuti antusias oleh warga desa maupun seniman lokal sebagai wujud nyata upaya melestarikan warisan budaya leluhur.

 

Tradisi ini dulunya dikenal sebagai bentuk penghormatan dan cara masyarakat zaman dahulu menolak bala atau wabah penyakit yang disebut pagebluk. Kini, kegiatan itu juga berfungsi sebagai ruang pembelajaran budaya yang hidup bagi anak‑anak dan generasi muda di wilayah tersebut.

 

Istilah Lamporan berasal dari kata lampor, yang sering disamakan dengan obor, namun keduanya memiliki perbedaan bentuk dan bahan yang jelas. Jika obor umumnya terbuat dari bambu, kain, dan dibakar pakai minyak tanah, lampor khas Soneyan disusun dari daun kelapa kering atau blarak yang diikat menjulang ke atas.

 

Kelompok yang bertugas membawa lampor disebut Dayakan, dan kegiatan membawanya disebut ndayakan. Para pelaku ini mengenakan kostum khas berupa rumbai‑rumbai yang seluruhnya dibuat dari daun kelapa muda atau janur, tampak unik dan penuh warna alami.

 

Dalam prosesi, para Dayakan berbaris rapi dan menari‑nari mengikuti irama musik khas setempat. Gerakan mereka dipimpin langsung oleh tetua desa yang memandu seluruh rangkaian keliling kampung dengan tertib dan penuh makna.

 

Iringan musik yang mengiringi perjalanan ini disebut musik tongtek, terdiri dari alat tontongan atau kentongan, jidor, dan icik‑icik. Gabungan bunyi alat musik sederhana ini menciptakan suasana khas yang meriah namun tetap sakral.

 

Acara kebudayaan tersebut dihadiri oleh Camat Margoyoso, perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kepala Desa Soneyan, Kepala Dusun Sumber, Ketua Panitia Lamporan, Presiden Komunitas Plat K, serta masyarakat luas.

 

Dalam sambutannya, Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra menyampaikan apresiasi atas konsistensi warga dan komunitas dalam menjaga tradisi yang diwariskan turun‑temurun. Baginya, Lamporan bukan sekadar pertunjukan, melainkan jati diri daerah.

 

Pemerintah Kabupaten Pati memberikan dukungan penuh terhadap setiap kegiatan seni dan budaya yang lahir dari inisiatif masyarakat. Pemerintah juga membuka Pendopo Kabupaten Pati agar bisa digunakan sebagai tempat penyelenggaraan festival budaya.

 

Selain urusan budaya, Plt Bupati juga menekankan fokus pembangunan yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Hal itu meliputi perbaikan jalan, penguatan layanan kesehatan lewat BPJS, serta pendidikan negeri yang gratis bagi semua warga.

 

Ia menegaskan pembangunan fisik harus berjalan seimbang dengan pembangunan karakter dan budaya. Chandra juga mengajak orang tua mengawasi penggunaan gawai anak agar interaksi sosial dan nilai kebersamaan tidak luntur oleh teknologi.

 

Sebagai langkah ke depan, pemerintah sedang merencanakan pendirian Museum Kabupaten Pati. Tempat ini nantinya akan menjadi rumah bersama seniman, budayawan, serta pusat dokumentasi dan edukasi kekayaan budaya daerah bagi generasi mendatang.


(Red).

×
Berita Terbaru Update